Pagi ini seperti mimpi bagiku, aku melihatnya di dekat kampusku. Sudah dua tahun aku tak bertemu dengannya dan pagi ini aku melihatnya mengenakan baju pink pemberianku dulu. Aku senang sekali. Dia cinta pertamaku. Aku tak pernah menyatakan perasaanku padanya karena aku tau dia ingin fokus ke pelajaran. Sekarang kami telah kuliah. Ia lulus di sebuah universitas ternama di Korea sedangkan aku lulus di universitas negeri di kotaku.
“heh,kau ini kenapa melamun sepagi ini?” tanya Reno mengejutkanku.
“eh..kau ini mengejutkanku saja.” bentakku “ini
Ren, tadi sebelum aku ke sini aku ngeliat dia.” Kataku sambil mengingat
kejadian tadi pagi.
“hah? Jadi Velancy udah balik ke Indonesia?” Tanya
Reno penasaran.
Aku hanya
mengangguk pasti.
Siang hari,
saat aku makan siang aku terkejut tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku. Apa
aku gak salah lihat siapa yang ada di depanku? Aku mengerjapkan mataku berulang
kali. Tidak! Aku tidak salah.
“Bilie, udah lama ya kita gak ketemu. Kamu apa
kabar?” Tanya wanita yang kucintai itu. “Velancy?
Aku baik. Kamu dari kapan balik ke sini?” tanyaku. “seminggu yang lalu gitu deh.”
Ku amati dia lebih dekat. Kau memang tak banyak berubah Velan, bisikku dalam
hati. “ngomong-ngomong kau sibuk gak malam ini? Kalau tidak aku ingin
mengajakmu makan malam, ya itung-itung untuk merayakan kepulanganmu ke
Indonesia,” Velancy berpikir sejenak, “sepertinya tidak,”. “syukurlah, oh iya
aku kehilangan nomor ponselmu semenjak ponselku hilang saat perpisahan SMA kita
dulu. Boleh aku minta nomormu lagi?” tanyaku dengan nada kaku dan segan. “ini
nomorku” jawab velan. “makasi sa….Velancy,” ya ampun hampir saja aku
memanggilnya dengan sebutan sayang. “oke,sampai jumpa nanti malam,” kata Velan
seraya pergi meninggalkanku.
Jam
empat sore aku mengirim pesan singkat kepada Velan: Velan ini aku Bilie. Jangan
lupa ya jam 19.00 di tempat favorit kita semasa SMA J. Ku tunggu balasannya, dia
hanya menbalas oke.
Ku
lirik jam tanganku, masih jam 18.00. aku terlalu cepat datang, sepertinya aku
terlalu bersemangat, dengusku pelan. Sejam terlewati. Velancy datang mengenakan
gaun batik khas Yogyakarta, indah sekali, aku sungguh terpana olehnya. Aku tersentak
dan segera melambaikan tangan ke arahnya. Kini ia berjalan kea rah mejaku. Jantungku
rasanya ingin lepas. Dan sekarang ia tepat berada di depanku.
Makan
malam indah ini terlalu cepat berlalu, pikirku sambil mengemudikan mobil menuju
rumah Velan. Jujur aku tak ingin kehilangan kesempatan ini lagi, seperti
kesempatan di dua tahun yang lalu saat ia memutuskan kuliah di Korea.
“Velan,”
panggilku pelan dan menghentikan laju mobil silverku
“ya
Bilie,” sahutnya lembut, mata coklatnya menatapku
“jujur,
aku menyukaimu sejak kita masuk SMA dan sampai saat ini aku masih menyukaimu,
ah tidak, tepatnya aku menyayangimu. Velan—kuraih tangannya—maukah kau menjadi
kekasihku?” tanyaku pasti
“maaf
Bil,” Velan melepaskan tanganku “aku belum bisa menjawabnya.” Katanya lembut
seraya menundukkan kepala
“jadi,
kapan kau akan menjawabnya?”
“aku
juga gak tau Bil, maafkan aku,”
“baiklah.
Sampai kapanpun aku akan menunggumu Velancy,” kata ku tegas
Semenjak
kejadian malam itu, Velan tak pernah membalas sms, email, dan mengangkat
telepon dariku. Aku sungguh penasaran apa yang telah terjadi dengannya, apa alasan
dia menjauhiku. Aku ke rumahnya hari ini, tetangganya mengatakan Velan di rumah
sakit. Aku pun segera ke sana.
Tapi,
apa yang terjadi saat aku membuka pintu kamar nomor 630 itu, aku melihat
orang-orang di ruangan itu telah berlinang air mata. Aku tertegun. Ku tatap
sesosok tubuh di tempat tidur yang telah ditutupi kain putih, tak terasa air
mataku jatuh menetes. Aku menangis. Tiba-tiba kakak Velan memberiku sepucuk
surat,
“Bilie,
Velan menitipkan ini untukmu,”
Ku
buka surat itu perlahan.
“Bilie, sebelum kau membaca surat ini,
berjanjilah untuk tetap tersenyum……
Air mataku
mengalir semakin deras
“Bilie, maafkan aku yang tidak memberimu
kepastian malam itu. Aku gak bermaksud menyakitimu. aku juga mencintaimu, kau pria
impianku. Aku ingin dan sangat ingin menjadi kekasihmu, tapi aku tak bisa. Aku gak
mau kau semakin tersakiti kalau kau tau saat itu umurku tak lama lagi. Aku menderita
penyakit Leukimia. Bilie, kau harus berjanji kepadaku untuk tetap tersenyum
saat kau mengingatku. Aku mencintaimu Bilie Alexander. GO GO GO SEMANGAT :’) !!!”
----love, Velancy.
Aku akan tetap
mencintaimu meski kau telah pergi meninggalkanku selamanya Velancy. Percayalah.