Translateツ

Translateツ

Jumat, 25 Januari 2013

Cinta Pertama yang Telah Pergi



 Pagi ini seperti mimpi bagiku, aku melihatnya di dekat kampusku. Sudah dua tahun aku tak bertemu dengannya dan pagi ini aku melihatnya mengenakan baju pink pemberianku dulu. Aku senang sekali. Dia cinta pertamaku. Aku tak pernah menyatakan perasaanku padanya  karena aku tau dia ingin fokus ke pelajaran. Sekarang kami telah kuliah. Ia lulus di sebuah universitas ternama di Korea sedangkan aku lulus di universitas negeri di kotaku.
“heh,kau ini kenapa melamun sepagi ini?” tanya Reno mengejutkanku.

 “eh..kau ini mengejutkanku saja.” bentakku “ini Ren, tadi sebelum aku ke sini aku ngeliat dia.” Kataku sambil mengingat kejadian tadi pagi.
 “hah? Jadi Velancy udah balik ke Indonesia?” Tanya Reno penasaran.
Aku hanya mengangguk pasti.
Siang hari, saat aku makan siang aku terkejut tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku. Apa aku gak salah lihat siapa yang ada di depanku? Aku mengerjapkan mataku berulang kali. Tidak! Aku tidak salah.
 “Bilie, udah lama ya kita gak ketemu. Kamu apa kabar?” Tanya wanita yang kucintai itu.  “Velancy? Aku baik. Kamu dari kapan balik ke sini?” tanyaku. “seminggu yang lalu gitu deh.” Ku amati dia lebih dekat. Kau memang tak banyak berubah Velan, bisikku dalam hati. “ngomong-ngomong kau sibuk gak malam ini? Kalau tidak aku ingin mengajakmu makan malam, ya itung-itung untuk merayakan kepulanganmu ke Indonesia,” Velancy berpikir sejenak, “sepertinya tidak,”. “syukurlah, oh iya aku kehilangan nomor ponselmu semenjak ponselku hilang saat perpisahan SMA kita dulu. Boleh aku minta nomormu lagi?” tanyaku dengan nada kaku dan segan. “ini nomorku” jawab velan. “makasi sa….Velancy,” ya ampun hampir saja aku memanggilnya dengan sebutan sayang. “oke,sampai jumpa nanti malam,” kata Velan seraya pergi meninggalkanku.
                Jam empat sore aku mengirim pesan singkat kepada Velan: Velan ini aku Bilie. Jangan lupa ya jam 19.00 di tempat favorit kita semasa SMA J. Ku tunggu balasannya, dia hanya menbalas oke.
                Ku lirik jam tanganku, masih jam 18.00. aku terlalu cepat datang, sepertinya aku terlalu bersemangat, dengusku pelan. Sejam terlewati. Velancy datang mengenakan gaun batik khas Yogyakarta, indah sekali, aku sungguh terpana olehnya. Aku tersentak dan segera melambaikan tangan ke arahnya. Kini ia berjalan kea rah mejaku. Jantungku rasanya ingin lepas. Dan sekarang ia tepat berada di depanku.
                Makan malam indah ini terlalu cepat berlalu, pikirku sambil mengemudikan mobil menuju rumah Velan. Jujur aku tak ingin kehilangan kesempatan ini lagi, seperti kesempatan di dua tahun yang lalu saat ia memutuskan kuliah di Korea.
                “Velan,” panggilku pelan dan menghentikan laju mobil silverku
                “ya Bilie,” sahutnya lembut, mata coklatnya menatapku
                “jujur, aku menyukaimu sejak kita masuk SMA dan sampai saat ini aku masih menyukaimu, ah tidak, tepatnya aku menyayangimu. Velan—kuraih tangannya—maukah kau menjadi kekasihku?” tanyaku pasti
                “maaf Bil,” Velan melepaskan tanganku “aku belum bisa menjawabnya.” Katanya lembut seraya menundukkan kepala
                “jadi, kapan kau akan menjawabnya?”
                “aku juga gak tau Bil, maafkan aku,”
                “baiklah. Sampai kapanpun aku akan menunggumu Velancy,” kata ku tegas

                Semenjak kejadian malam itu, Velan tak pernah membalas sms, email, dan mengangkat telepon dariku. Aku sungguh penasaran apa yang telah terjadi dengannya, apa alasan dia menjauhiku. Aku ke rumahnya hari ini, tetangganya mengatakan Velan di rumah sakit. Aku pun segera ke sana.
                Tapi, apa yang terjadi saat aku membuka pintu kamar nomor 630 itu, aku melihat orang-orang di ruangan itu telah berlinang air mata. Aku tertegun. Ku tatap sesosok tubuh di tempat tidur yang telah ditutupi kain putih, tak terasa air mataku jatuh menetes. Aku menangis. Tiba-tiba kakak Velan memberiku sepucuk surat,
                “Bilie, Velan menitipkan ini untukmu,”
                Ku buka surat itu perlahan.
                “Bilie, sebelum kau membaca surat ini, berjanjilah untuk tetap tersenyum……
Air mataku mengalir semakin deras
“Bilie, maafkan aku yang tidak memberimu kepastian malam itu. Aku gak bermaksud menyakitimu. aku juga mencintaimu, kau pria impianku. Aku ingin dan sangat ingin menjadi kekasihmu, tapi aku tak bisa. Aku gak mau kau semakin tersakiti kalau kau tau saat itu umurku tak lama lagi. Aku menderita penyakit Leukimia. Bilie, kau harus berjanji kepadaku untuk tetap tersenyum saat kau mengingatku. Aku mencintaimu Bilie Alexander. GO GO GO SEMANGAT :’) !!!” ----love, Velancy.
Aku akan tetap mencintaimu meski kau telah pergi meninggalkanku selamanya Velancy. Percayalah.